Ulasan ‘Nomadland’: Rumah Tidaklah Sebatas Petak-petak Bertembok

Bukan hal yang mudah untuk menjalani kehidupan ketika kita harus bergerak keluar dari zona nyaman yang kita anggap sebagai rumah. Apalagi jika mulanya kita beranjak pergi bukan karena kemauan sendiri. Chloé Zhao mempersembahkan sebuah film kontemplatif yang mengajak kita untuk mengamati keseharian seorang nomad (orang yang memilih untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya). Nomadland, yang diadaptasi dari buku berjudul Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century karya Jessica Bruder, agaknya memiliki kemiripan dengan film-film panjang Zhao sebelumnya (Songs My Brother Taught Me dan The Rider): sama-sama mengupas kehidupan melalui perspektif lapisan masyarakat yang tidak populer dan cenderung tersisihkan.

Fern (Frances McDormand) bukanlah orang yang sedari awal memilih untuk menjalani kehidupan sebagai nomad. Ia sempat memiliki kehidupan yang tergolong stabil. Pernah bekerja bersama dengan suaminya untuk suatu pabrik gipsum di Empire, Nevada dan menempati rumah tak jauh dari sana selayaknya pekerja-pekerja lain di pabrik tersebut. Di tahun 2011 ia kehilangan semuanya, suaminya telah meninggal dan pabrik gipsum tempat ia bekerja pun mengalami penutupan karena kondisi ekonomi yang memburuk. Empire praktis menjadi kota mati. Realita tak memberikan opsi bagi Fern untuk menetap di sana.

Frances McDormand di film Nomadland (2020)

Ia memutuskan untuk mengembara, mengelilingi dataran Amerika bermodal sebuah campervan yang dijadikan “tempat tinggal” barunya. Tak mudah rupanya menjalani gaya hidup seyogyanya pengembara. Kepastian dalam banyak aspek kehidupan adalah privilege yang kelihatannya mustahil untuk dimiliki seorang nomad. Fern yang sebenarnya sudah memasuki usia senja masih harus berjerih payah sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari bekerja paruh-waktu di kantor Amazon hingga menjadi pelayan dan koki di restoran siap saji, semuanya ia jabani. Menjadi seseorang yang secara konstan berpindah tempat tak berarti Fern menyendiri sepanjang waktu. Perlahan ia mulai menjalin persahabatan dengan beberapa nomad lainnya tiap kali ia singgah di titik perkumpulan bagi para pengembara.

Orang-orang semacam para pengembara ini bisa jadi disalahpahami oleh banyak orang sebagai tunawisma yang padahal belum tentu juga mereka ini memutuskan menjadi nomad semata-mata hanya karena tidak sanggup membeli atau menyewa properti tetap untuk dijadikan tempat tinggal. Bagi saya yang tak memiliki banyak pengetahuan soal gaya hidup pengelana di masa modern, Nomadland menambah wawasan saya lewat fakta-fakta menarik. Salah satunya adalah kebanyakan nomad ini malah merupakan orang-orang yang terbilang lanjut usia. Rata-rata memiliki motivasi untuk menjalani sisa kehidupan mereka di ruang yang mereka tafsirkan selaku “rumah” yang sesungguhnya, yaitu alam yang terbentang di muka bumi dengan begitu luasnya.

Pemikiran kalau mereka harus menghabiskan tahap terakhir dalam siklus kehidupan dengan terkungkung dalam satu ruangan tertutup (entah itu rumah, panti jompo atau rumah sakit) adalah perihal yang sepertinya sulit diterima oleh idealisme mereka. Bagaimana Zhao kemudian menampilkan keindahan lanskap daerah rural di Amerika yang dijelajahi oleh Fern sepanjang film lewat rangkaian shot yang lembut dipadankan dengan scoring puitis gubahan Ludovico Einaudi amat membantu penonton untuk kian memahfumi dan memaklumi pilihan mereka untuk hidup bebas sebagai nomad terlepas dari segala pergumulan yang mengiringinya.

Saya juga suka melihat bagaimana Zhao larut berceritera, mengkonstruksikan hiruk-pikuk seputar kehidupan Fern dalam pengembaraan spiritualnya mencari makna “rumah” yang sejati tanpa perlu memosisikan karakter sentralnya seperti tokoh-tokoh protagonis di kebanyakan kisah fiktif. Kita tidak perlu menginvestasikan emosi kita kepada Fern, kita tidak perlu bersimpati ataupun mendukung Fern. Nomadland hadir bak dokumentasi rekam jejak kehidupan seseorang yang tujuannya adalah untuk menyingkap tabir akan sesuatu di luar sana yang (mungkin) tidak kita ketahui sebelumnya. Itulah yang membuat film ini unik dan mudah bagi yang menonton untuk merajut koneksi dengan narasi yang diangkat.

Tak mungkin saya membicarakan kemantapan film ini tanpa menyinggung penampilan McDormand. Masih lekat dalam ingatan aksi fantastis beliau memerankan Mildred Hayes dalam Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang menghantarkannya pada penghargaan Aktris Terbaik di gelaran Academy Awards 2018. Apa yang ia pertunjukkan di Nomadland menurut saya tak kalah apik, bahkan lebih mengagumkan. Memerankan Fern bukanlah perkara mudah karena ia adalah figur yang kompleks dengan segala kejenuhan duniawi yang menggandrungi dirinya. Namun alih-alih berusaha menghidupkan persona sang nomad lewat demonstrasi kedalaman ragam emosi secara complicated (yang bisa saja ia lakukan jika dia mau), McDormand justru memilih untuk menjadi manusia sewajarnya saja. Itulah yang membuat penampilannya begitu memukau. Sangat effortless. Yakinlah di awards season 2020/2021 nanti beliau adalah salah satu contender utama.

Ada pula tokoh Dave (diperankan David Stratheirn) juga memberikan nuansa tersendiri pada Nomadland dan sukses menyuntikkan sedikit sentuhan afeksi yang membuat sosok Fern lantas tidak terlihat out of touch. Di samping McDormand dan Stratheirn, tak ada lagi peran dengan porsi signifikan yang dilakoni oleh aktor/aktris profesional. Sisanya adalah para pengelana nyata yang dihadirkan Zhao ke dalam cerita seperti Linda May, Charlene Swankie dan Bob Wells. Mereka-mereka ini menyuguhkan tambahan nilai realisme yang membuat film ini semakin berbobot.

Nomadland adalah selebrasi humanis bagi jiwa-jiwa yang masih terus berusaha untuk menemukan tempatnya di dunia yang semakin hari terasa semakin sempit. Sebuah testamen atas kemampuan Zhao dalam mengapresiasi hal-hal yang mengingatkan kita pada apa artinya hidup sebagai makhluk sosial lewat medium film. Tak sabar menanti hasil kreasi berikutnya yang akan ia buahkan.

GRADE: B+

Pemeran: Frances McDormand, David Strathairn, Charlene Swankie, Linda May, Bob Wells | Sutradara: Chloé Zhao | Penulis naskah: Chloé Zhao | Negara: USA | Genre: drama

Ditayangkan di Toronto International Film Festival 2020 dalam kategori Gala Presentations

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s