Ulasan ‘Get the Hell Out’: Gila-gilaan Tidak Berfaedah

Get the Hell Out cukup menggugah rasa keingintahuan saya ketika permulaan filmnya dibuka dengan kata-kata bijak sebagai berikut:

A bad movie only takes away 90 minutes, but a bad government takes away 4 years.

Wow.. apakah ini akan menjadi tontonan horor-komedi yang sarat akan satir sosio-politik?!

Film panjang pertama dari sutradara asal Taiwan, I-Fan Wang, ini punya segudang amunisi yang siap ditembakkan demi menyajikan suatu pertunjukan yang menurut saya mudah memancing gelak tawa. Segala hal berkenaan dengan film ini bisa dideskripsikan dengan satu istilah saja: over the top. Dan saya tidak berbicara over the top yang sekadar berlebihan, tapi Get the Hell Out ini berlebihannya overdosis. Sepertinya tujuannya memang demikian dan tak salah juga sih karena faktanya saya pun beberapa kali dibuat ngakak karenanya.

Bruce Ho di film Get the Hell Out (2020)

Hsiung Ying-Ying (Megan Lai) adalah anggota parlemen yang berjuang keras menentang pembukaan pabrik kimia di atas tanah kampung halamannya. Namun ia harus kehilangan jabatannya setelah terjadi insiden perkelahian antara ia dengan seorang satpam di gedung parlemen bernama Wang You-Wei (Bruce Ho). You-Wei yang mendadak populer lantas dipaksa oleh Ying-Ying untuk mencalonkan diri sebagai anggota parlemen baru menggantikan dirinya dan melanjutkan perjuangannya.

Di sisi lain, You-Wei juga menerima tawaran menggoda dari politikus picik bernama Li Kuo-Chung (Chung-Huang Wang). Ia dijanjikan sokongan politis dan jalan pintas untuk mendapatkan lebih banyak kekuasaan jika mau memberikan dukungan terhadap agenda pembukaan pabrik kimia di kampung Ying-Ying. Belum usai urusan dengan rasa dilema yang menghinggapi, You-Wei harus turut serta dalam pertemuan besar antara para anggota parlemen dengan presiden di kala isu mengenai munculnya virus rabies yang bisa mengubah manusia menjadi zombie sedang menyeruak.

Bisa dipahami kalau mungkin intensi awal Wang adalah ingin menjadikan karya perdananya ini sebagai ajang untuk mengujarkan caci-maki terhadap kebusukan tatanan politik di negara asal beliau. Petunjuk-petunjuk yang menyiratkan akan niat tersebut ditebar secara cepat dan dengan cara yang cukup komikal sepanjang kurang lebih 15 menit pertama. Namun ketika tiba di saat “makanan utama” dihidangkan, benih-benih satir sosio-politik yang sempat dicuatkan menguap begitu saja dan film ini mendadak pivot macam perusahaan startup yang model bisnisnya sedang tersendat. Get the Hell Out seketika berubah menjadi dunia fantasi tak berotak layaknya zombie yang berkeliaran di film ini.

Wang langsung tancap gas menyemburkan pergelaran banyolan aneh bin ajaib tiada henti hingga akhir film, tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk merasakan lelah. Menyaksikan editing yang sangat stylish & cartoonish, aksi kamera yang rusuh kalang kabut serta tendensi sang sutradara untuk kerap menyematkan guyonan-guyonan dengan cara yang tak terduga amatlah menghibur (dan cenderung absurd). Elemen gore yang dipertontonkan pun jatuhnya tidak terlihat mengerikan atau menjijikan tapi malah menggelikan. Film yang satu ini adalah resep berbahaya yang bisa menguras kewarasan. Jika menurut Anda Shaun of the Dead-nya Edgar Wright sudah cukup kaotis, tunggu sampai film ini mampir di layar Anda.

Di bagian-bagian tertentu, Wang seperti teringat untuk memasukkan kembali komentar sosial-politik ke dalam filmnya. Tetapi karena Get the Hell Out sudah kebacut nyaman bermain slapstick, akhirnya kebanyakan bit satir yang serta merta ia selipkan tidak ada signifikansinya. Hanya angin lalu. Kata-kata bijak yang melintas di awal film pun terbuang dengan sia-sia. Keseluruhan narasi yang dihadirkan terasa hampir tidak koheren sama sekali, seakan-akan naskah film ini hanya terdiri atas kumpulan ide yang dipersatukan dengan sembarang.

Agak out of place kiranya kalau saya membicarakan masalah karakterisasi pada film semacam ini, namun apa daya diri ini gatal ingin mengomentari bagaimana tokoh-tokoh yang muncul di Get the Hell Out semuanya sangat one-dimensional. Kedua tokoh utama, Ying-Ying dan You-Wei, sedari awal sampai akhir terlampau konsisten begitu-begitu saja tone wataknya. Yang satu emosinya selalu tinggi dan yang satu lagi plonga-plongo tidak karuan. Tetapi saya terkesima juga melihat Lai yang bisa menjaga kadar amarah sosok Ying-Ying selalu tinggi di setiap saat, bahkan di sekelumit adegan di mana ia harus bertutur dengan lebih halus pun aura bad temper-nya tetap kental.

Get the Hell Out adalah jenis tontonan yang akan selalu ada penikmatnya karena ya pasti ada saja orang-orang di luar sana yang membutuhkan tontonan nirfaedah sebagai sarana pelepas penat. Nyaris tidak ada hal lain yang bisa dipetik dari film ini di samping kejenakaannya.

GRADE: B-

Pemeran: Bruce Ho, Megan Lai, Tou Chung-Hua, Francesca Kao | Sutradara: I-Fan Wang | Penulis naskah: I-Fan Wang, Shih-Keng Chien, Wan-Ju Yang | Negara: Taiwan | Genre: horor, komedi

Ditayangkan di Toronto International Film Festival 2020 dalam kategori Midnight Madness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s