Ulasan ‘Shiva Baby’: Kegelisahan, Ketakutan & Julid-julid Keluarga

Apakah ada di antara kalian yang kurang suka berpartisipasi dalam kegiatan kumpul-kumpul keluarga, apalagi kalau dengan keluarga besar? Kalau ada, maka Anda sama dengan saya. Menghabiskan waktu berbicara dengan banyak orang yang sebenarnya juga tidak akrab-akrab banget adalah hal yang sangat saya benci. Belum lagi jika terlanjur mendengar terlontarnya celotehan-celotehan nyeleneh (biasanya dari orang yang lebih tua) semacam “kapan nikah?” atau “kapan nih lulus kuliahnya?” sepertinya sudah menjadi kelaziman saat sedang berkumpul dengan keluarga besar.

Semua orang dalam suatu keluarga besar bisa sewaktu-waktu menjadi target bahan pembicaraan oleh anggota keluarga lainnya. Buruknya lagi, kebiasaan julid keluarga ini terkadang tidak pandang situasi. Contoh ekstrimnya adalah apa yang dipertunjukkan dalam film Baby Shiva arahan sutradara debutan Emma Seligman. Lewat film panjang pertamanya tersebut, Seligman memperlihatkan bahwa munculnya satu sosok yang bisa dijadikan bahan julid di tengah-tengah kegiatan yang mempertemukan banyak anggota keluarga, tanpa memedulikan situasinya, maka orang itu hampir pasti akan menjadi pusat perhatian.

Sedari awal, penonton langsung diajak mengenal latar belakang dari sang tokoh utama, Danielle (yang diperankan dengan amat ciamik oleh Rachel Sennott). Ia adalah mahasiswi jurusan studi gender yang juga merupakan seorang sugar baby bagi Max (Danny Deferrari). Dari interaksi singkat mereka di permulaan film dapat disimpulkan bahwa Max adalah lelaki haus afeksi yang oleh karenanya ia rela menjadi sugar daddy dan di sisi lain, jelas terlihat kalau Danielle menjalin hubungan terlarang tersebut karena ia butuh uang.

Rachel Sennott di film Shiva Baby (2020)

Permasalahan mulai nampak wujudnya ketika Danielle diajak oleh kedua orang tuanya untuk menghadiri Shiva1 pasca pemakaman salah satu relasi dari keluarga besar mereka. Pertama-tama, Danielle dikejutkan oleh kehadiran sang mantan pacar, Maya (Molly Gordon). Dalam suasana berkabung pun justru orang-orang di sana malah asyik bergosip, membanding-bandingkan Danielle dan Maya. Banyak dari mereka meremehkan Danielle karena pilihan studinya dianggap tak berguna dibanding Maya yang sudah berencana melanjutkan sekolah hukum setelah lulus kuliah. Tak cukup sampai situ, realita semakin menjepit Danielle ketika Max ternyata juga datang ke Shiva tersebut bersama dengan istrinya (Dianna Agron) dan anak mereka yang masih berusia 18 bulan.

Seligman nampak tidak tertarik untuk menyinggung aspek kisah cinta terlarang antara Danielle dan Max, pun tidak mendadak preachy membenturkan kewajaran moralitas dengan pilihan Danielle menjadi sugar baby. Shiva Baby lebih memilih untuk berfokus pada menguliti sosok Danielle secara psikologis, menyuratkan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kebejatan julid-julid keluarga yang sepertinya sudah menjadi suatu kultur mendunia.

Tidak sekalipun Danielle bisa berpindah posisi di dalam rumah tempat dilangsungkannya Shiva tersebut tanpa bertemu dengan seseorang yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan menjurus condescending atau omongan-omongan bernada nyinyir kepadanya. Belum lagi dihantui ketakutan akan bocornya rahasia antara ia dan Max. Kesatuan sajian visual yang ditampilkan sangat merepresentasikan rasa gundah dan gelisah. Seluruh rangkaian kejadian di Shiva Baby tidak hanya menjadi pengalaman yang sangat anxiety-inducing bagi Danielle seorang, tetapi juga bagi penonton. Yah, setidaknya saya sendiri sih merasa demikian.

Untuk ukuran film yang berdurasi “hanya” 77 menit, Shiva Baby ini adalah contoh nan ideal dalam hal konstruksi struktur cerita. Grafik tensinya secara konsisten terus menanjak dan menyentuh puncak tepat menjelang akhir babak ketiga. Baik Danielle maupun penonton nyaris tidak diberi ruang untuk bernapas. Patut pula diapresiasi keberanian Seligman, di film pertamanya, untuk memilih bermain dengan cerita yang kurang lebih 98%-nya terjadi di satu latar lokasi saja. Ia mampu dengan cermat mengolah blocking menggunakan segala orang dan properti yang tersedia untuk menciptakan kesan suasana yang sempit dan mencekik sehingga aftertaste-nya semakin menancap kepada yang menonton. Jarang sekali saya bisa merasakan rasa frustasi yang begitu nyata hanya karena menonton film.

Kecemerlangan film ini juga tak lepas dari peran besar Sennott yang begitu mantap memanifestasikan persona Danielle dengan sifat-sifatnya yang tidak kelewat eksentrik dan sangat relatable bagi banyak kalangan. Bagaimana cara Sennott mempertunjukkan pergolakan batin Danielle secara ekspresif tanpa harus terlalu banyak bertutur kata bagi saya terlihat on-point dan realistis. Ia berada tepat di tengah-tengah antara ingin berteriak meledak-ledak penuh emosi dan harus menahan diri agar tidak mempermalukan diri sendiri lebih jauh. Gelagat kegrogiannya, ketegangannya dan kecanggungannya dalam mencerna apa yang terjadi dan memikirkan bagaimana ia harus bereaksi semua sangat sesuai dengan apa yang saya bayangkan akan saya lakukan jikalau saya terjebak pada situasi yang sama dengan Danielle.

Polly Draper di film Shiva Baby (2020)

Yang juga menarik untuk ditelaah adalah figur orang tua dari Danielle sendiri yang menurut saya terbilang manipulatif. Saya katakan demikian karena ada anomali dari bagaimana mereka bersikap terhadap si anak yang terpojokkan. Sepanjang film bisa disaksikan bagaimana Ayah dan Ibunya juga selalu berpandangan skeptis, mencoba secara sepihak mengarahkan Danielle ke haluan yang tidak ia inginkan. Mereka, utamanya Debbie sang Ibu (diperankan oleh Polly Draper), baru menunjukkan empati secara eksplisit ketika Danielle sudah kadung terjerembab. Penggambaran karakter orang tua yang seperti itu tidaklah kemudian mengurangi value dari film ini, tetapi justru kian memperkaya dimensi yang ditawarkan.

Tidak melulu depresif, Shiva Baby tak abai menyelipkan sedikit elemen humor ke dalam jalinan kisahnya yang terlihat ditujukan agar penonton tidak terlampau tenggelam bersama Danielle dan rasa paranoidnya. Beberapa selentingan jenaka terujarkan oleh tokoh Debbie seperti ketika ia mengomentari bentukan anaknya, yang menurutnya sangat kurus karena seringkali menolak makanan, nampak bagaikan “Gwyneth Paltrow on food stamps.” Sempat berharap banyak terhadap Agron namun sayangnya penampilan ia sebagai seorang istri dengan sisi kecemburuan yang subtil tidak diberikan porsi banyak di film ini.

Cukup mengejutkan melihat fakta bahwa film sematang dan sekuat Shiva Baby ternyata digarap oleh nama baru seperti Seligman. Jika saya mengingat-ingat beberapa tahun terakhir ini, agaknya tidak banyak film debut yang menurut saya lebih baik daripada film ini. Memang masih banyak film keluaran tahun ini yang belum rilis dan ada juga yang belum sempat saya tonton, tapi lumayan yakin lah kalau Shiva Baby akan mengisi satu slot di daftar top 5 film 2020 saya nantinya.

GRADE: A-

Pemeran: Rachel Sennott, Molly Gordon, Polly Draper, Danny Deferrari, Fred Melamed | Sutradara: Emma Seligman | Penulis naskah: Emma Seligman | Negara: USA | Genre: drama, komedi

Ditayangkan di Toronto International Film Festival 2020 dalam kategori Discovery

1Shiva adalah kegiatan kumpul keluarga dalam budaya Yahudi yang dilaksanakan setelah dilakukannya pemakaman dengan tujuan memberi kesempatan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk berkabung dengan sepantasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s